oleh Endah Sriwahyuni pada 3 September 2012 pukul 21:20 ·
Contoh Dimensi-Dimensi Hakikat Manusia
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: seorang anak tidak mau dirinya diubah menjadi orang lain.
Pada keluarga: seorang anak tidak mau disamakan dengan kakak atau adiknya atau sudaranya yang lain.
Pada masyarakat: seseorang memunyai keunikan yang berbeda dengan orang lain yang tidak ingin disamakan dengan kata lain mempunya ciri khas tersendiri.
2. Dimensi Kesosialan
Setiap bayi yang lahir dikaruniai potensi sosialitas. Demikian kata M.J. Langeveld. Setiap anak dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. Artinya, setiap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya didalamnya terkandung unsur saling memberi dan menerima. Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Manusia hanya menjadi manusia jika berada diantara manusia.
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: seseorang tidak bisa memilih-milih dalam berteman karena setiap orang pasti membutuhkan orang lain.
Pada keluarga: dengan senang hati membantu pekerjaan rumah.
Pada masyarakat: ikut serta dalam bakti sosial.
3. Dimensi kesusilaan
Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan lebih tinggi. Akan tetapi dalm kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat yang pantas jika didalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung. Dimensi kesusilaan disebut juga keputusan yang lebih tinggi.kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket.etika adalah (persoalan kebaikan ) sedangkan etiket adalah (persoalan kepantasan dan kesopanan ).
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: menjaga sikap,harga diri dan martabat sebagai seorang manusia.
Pada keluarga: tata krama berbicara terhadap orang yang lebih tua.
Pada masyarakat: bertegur sapa,mengucapkan salam saat berpapasan dengan orang lain.
4. Dimensi keberagamaan
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: seseorang melaksanakan solat tepat pada waktunya.
Pada keluarga: ayah sebagai pembimbing dalam mengarahkan keluarganya untuk melakukan solat berjamaah atau kegiatan agama lainnya.
Pada masyarakat: seorang guru mengajar mengaji untuk orang lain yang membutuhkan bimbingannya.
- Dimensi Individual
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: seorang anak tidak mau dirinya diubah menjadi orang lain.
Pada keluarga: seorang anak tidak mau disamakan dengan kakak atau adiknya atau sudaranya yang lain.
Pada masyarakat: seseorang memunyai keunikan yang berbeda dengan orang lain yang tidak ingin disamakan dengan kata lain mempunya ciri khas tersendiri.
2. Dimensi Kesosialan
Setiap bayi yang lahir dikaruniai potensi sosialitas. Demikian kata M.J. Langeveld. Setiap anak dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. Artinya, setiap orang dapat saling berkomunikasi yang pada hakikatnya didalamnya terkandung unsur saling memberi dan menerima. Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul. Dengan adanya dorongan bergaul, setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Manusia hanya menjadi manusia jika berada diantara manusia.
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: seseorang tidak bisa memilih-milih dalam berteman karena setiap orang pasti membutuhkan orang lain.
Pada keluarga: dengan senang hati membantu pekerjaan rumah.
Pada masyarakat: ikut serta dalam bakti sosial.
3. Dimensi kesusilaan
Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan lebih tinggi. Akan tetapi dalm kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup hanya berbuat yang pantas jika didalam yang pantas atau sopan itu misalnya terkandung kejahatan terselubung. Dimensi kesusilaan disebut juga keputusan yang lebih tinggi.kesusilaan diartikan mencakup etika dan etiket.etika adalah (persoalan kebaikan ) sedangkan etiket adalah (persoalan kepantasan dan kesopanan ).
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: menjaga sikap,harga diri dan martabat sebagai seorang manusia.
Pada keluarga: tata krama berbicara terhadap orang yang lebih tua.
Pada masyarakat: bertegur sapa,mengucapkan salam saat berpapasan dengan orang lain.
4. Dimensi keberagamaan
Contohnya antara lain:
Pada diri sendiri: seseorang melaksanakan solat tepat pada waktunya.
Pada keluarga: ayah sebagai pembimbing dalam mengarahkan keluarganya untuk melakukan solat berjamaah atau kegiatan agama lainnya.
Pada masyarakat: seorang guru mengajar mengaji untuk orang lain yang membutuhkan bimbingannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar